Senin, 30 November 2009

INUYASHA


Ayah Inuyasha adalah siluman yang amat disegani pada masa hidupnya, dan ibu Inuyasha adalah seorang putri bangsawan yang tersohor kala itu. Meski begitu, karena ibu Inuyasha adalah manusia dan ayahnya adalah siluman, cinta mereka berdua ditentang oleh berbagai pihak. Pada akhirnya, ayah Inuyasha meninggal karena terluka akibat melindungi Inuyasha dan ibunya di hari kelahiran Inuyasha.

Ternyata bukan hanya hari kelahiran Inuyasha saja yang begitu tragis. Masa kecilnya dipenuhi dengan kesengsaraan, manusia disekitarnya takut padanya karena ia menjadi setengah siluman, dengan separuh darah siluman dan separuh manusia. Tetapi, di antara kaum silumanpun, Inuyasha malah dianggap manusia lemah dan selalu dikejar oleh mereka. Mungkin, inilah yang membuat Inuyasha tumbuh menjadi cowok kasar yang cuek pada orang-orang disekitarnya. Meski begitu kawan, ternyata ia tidak pernah membenci ibunya.

Mungkin, dimulutnya dia bisa saja menghina ibu atau ayahnya sendiri dan berlagak egois, tapi kenyataannya?
Beberapa waktu setelah segelnya dibuka oleh Kagome, kakak tiri Inuyasha, yang berasal dari lain ibu, yakni Sesshomaru, datang dan menanyakan pada Inuyasha letak makam ayahnya. Sayangnya, Sesshomaru tidak bertanya dengan cara yang baik. Ia membawa seseorang yang katanya dibawanya dari dunia arwah… yup, ibu Inuyasha. Dan Inuyasha, yang tidak tega melihat ibunya diperlakukan buruk oleh Sesshomaru itupun menyelamatkan ibunya. Tanpa tahu bahwa itu bukan ibunya, melainkan Muonna. Siluman yang terbentuk dari kumpulan roh wanita yang kehilangan anaknya dalam perang. Tapi karena itulah, karena dia adalah siluman yang terbentuk dari kasih sayang ibu terhadap anaknya, meski ia sempat menipu Inuyasha atas perintah Sesshomaru, Muonna akhirnya hancur karena melindungi Inuyasha dari Sesshomaru…

Resensi Resident Evil


Resident Evil: Extinction


2007
Sony Pictures
Jenis: Action/Adventure/Horror
Sutradara: Russell Mulcahy
Pemain: Milla Jovovich, Ali Larter, Oded Fehr, Mike Epps
Penulis: Paul W.S. Anderson




MPAA Rating: R


Merupakan adaptasi game survival horror yang sangat popular. Sekaligus merupakan sekuel kedua dari Resident Evil yang telah dimulai sutradara penggemar game Paul W.S. Anderson tahun 2002 lalu. Sejujurnya ini bukan franchise yang hebat sehingga butuh menelurkan banyak sekuel. Film pertama dan keduanya tidak terlalu bagus tapi tidak juga bisa dikatakan film buruk. Sehingga Saya punya ekspetasi nol terhadap Extinction.

Menyambung kisah sebelumnya, T-Virus semakin menyebar dan jumlah populasi zombie kian bertambah. Alice (Milla Jovovich) yang semakin tangguh saja bertemu dengan konvoi pencarian orang-orang tak terinfeksi yang dipimpin oleh Claire Redfield (Ali Larter). Di sini Ia bertemu lagi dengan Carlos (Oded Fehr) dan L.J. (Mike Epps), mempersiapkan keberangkatan menuju satu-satunya tempat yang tak terjangkit virus, yakni Alaska. Namun Umbrella Corp. tentu saja mengincar nyawa Alice yang merupakan asset berharga bagi perusahaan.

Memang merupakan sebuah kutukan dalam membuat film adaptasi game. Hasilnya hamper selalu buruk bahkan sebagian bisa dibilang film sampah seperti Mortal Kombat, Street Fighter dan DOA Dead or Alive. Anderson sangat beruntung di sini karena bisa menjaga kelas trilogy Resident Evil untuk tidak menambah panjangnya daftar film kelas B. Dan alasan membuat film ini? Hanya untuk mencari keuntungan semaksimal mungkin mengingat bujet yang disuntik tidaklah raksasa.

Sebagai sekuel yang tidak berdiri sendiri, agar cerita dapat dimengerti, penonton dipaksa mengikuti semua seri Resident Evil—walaupun Saya tahu sedikit melelahkan bagi non-fan. Seperti seri sebelumnya, Apocalypse, yang diangkat dari game Resident Evil Nemesis, Extinxtion juga berdasarkan salah satu seri gamenya. Dan kali ini Anderson mengangkat Resident Evil:Code Veronica. Sedikit janggal dengan absennya tokoh Jill Valentine (yang pada film Apocalypse diperankan Sienna Guillory) tanpa kabar. Padahal—maaf memberi spoiler—Ia terlihat bersama-sama Carlos pada akhir film kedua.

Kemunculan banyak tokoh baru juga sedikit menambah semangat menonton film ini. Terutama pejuang berambut merah Claire Redfield yang diperankan si cantik berkepribadian ganda dalam sinetron Heroes, Ali Larter. Ada pula Albert Wesker sebagai mastermind antagonisnya. Dan naskah cukup berani mengakhiri hidup beberapa karakter.

Ceritanya memang diubah karena pada dasarnya pondasi yang dibangun pada jilid pertamanya itu tidak banyak mengambil unsur-unsur gamenya. Sehingga alur harus mengikuti arusnya dan beginilah hasilnya. Mengandung sedikit “twist” tapi bisa dibilang buruk. Sekaligus inilah film Resident Evil terburuk yang pernah ada.

Gamenya mungkin menyeramkan tapi tidak untuk filmnya. Karena Anda tahu sendiri betapa lucunya membuat horror siang-siang di padang pasir. Jelas tingkat kengeriannya adalah nol. Tapi seperti dua prekuelnya yang kita ketahui, Resident Evil versi film tidak sepenuhnya film horror bertemakan zombie. Tapi lebih condong bergenre aksi. Begitu juga dengan yang ketiga ini. Aksinya seperti aksi sirkus dengan editan cepat.

Berbicara masalah genre aksi horror, Saya memiliki pandangan lain terhadap rekayasa Anderson ini. Berdasarkan alurnya, pandangan Saya terhadap jenis film ini adalah menambah genre fantasy dalam serialnya. Ya, Alice adalah penyihir. Ia memiliki kekuatan super selayaknya Invisible Woman dalam Fantastic Four. Kemudian Saya sendiri merenung dan bertanya dalam hati: Film yang Saya tonton ini film sihir atau film zombie?

Hal yang sangat mengganggu dalam film ini adalah terlalu banyak promosi. Dimana-mana dan disetiap saat, tulisan Sony selalu menghiasi layar. Saya tahun ini adalah persembahan Sony Pictures, yang jelas hal itu sangat mengganggu. Itu membuat Saya teringat dengan Casino Royale yang juga banyak berisi promosi. Dan hebatnya itu keluaran Sony juga. Cara yang “tepat” untuk promosi.

Di akhir tulisan juga membicarakan akhir filmnya. Setelah melawan boss yang tidak tangguh, endingnya dibuat menggantung. Sudah dipastikan ini bukan trilogy lagi karena plot baru sudah dibuka—tepatnya diperpanjang—untuk film keempat. Dan sepertinya film keempat akan lebih baik jika tokoh-tokoh top seperti Chris Redfield dan Leon dimunculkan bersama Jill serta didukung naskah yang kuat dan tidak terlalu teknologi tinggi. Bagaimanapun juga film zombie tradisional memang lebih baik. Filmnya sendiri tidak mengecewakan, itu karena Saya tidak berharap muluk-muluk. Bukan merupakan film wajib tonton. Disamping Milla Jovovich dan Ali Larter sangat cantik di sini. Terutama melihat kembali Milla berkostum merah seperti pada film pertamanya dan telanjang seperti film keduanya.

Resident Evil 4



RESIDENT EVIL 4
Full Action

Capcom - Capcom - Third-Person Action Adventure

Cukup mengejutkan pada saat Capcom Resident Evil 4 tiba-tiba saja dirilis di Game-Cube. Dan melegakan ketika Capcom mengumumkan game ini bakal dirilis juga di PS 2. (sofi)

Capcom tetap mempertahankan inti genre horor dalam Resident Evil 4, tapi jangan salahkan setelah banyaknya sekuel dan perputaran cerita, maka ada beberapa formula tambahan yang cukup mengejutkan. Dalam gameplay seri keempatnya ini, pengembang nggak hanya menawarkan unsur shooter atau survival horror, tapi juga action secara keseluruhan.

Adegan-adegan di mana zombie berkeliaran dan menyeret kaki para karakter udah nggak ada lagi, nih di sini! Mekanisme bidikan yang primitif dan background yang berulang juga hanya jadi masa lalu. Semua itu digantikan dengan action yang dijamin bisa bikin deg-degan, apalagi dengan ratusan musuh AI yang pintar. Coba aja deh mainin pembukaan level RE 4. Cuma sebentar sesaat setelah pembukaan, Capcom menjejali kamu dengan lingkungan yang super hancur dengan puluhan penduduk yang dilengkapi dengan garpu rumput, pisau, kapak, dan kebencian akan kedatanganmu. Oh ya satu lagi, pernah dengar tentang manusia gergaji? Suara letusan dari senjatanya yang berkekuatan gas dapat mendidihkan darahmu. Ketika kamu menyerangnya, dijamin bisa bikin kamu menjerit-jerit, secara keseluruhan RE kali ini adalah game brutal yang tanpa henti.

Inti dari RE 4 adalah menghisap setiap sudut ketakutan kamu. Tentunya masih ada kejutan lain, tapi ketakutan yang paling menegangkan adalah menghadapi situasi di sekitarmu. Musuh di balik pintu yang sedikit-demi sedikit menghancurkan pintu untuk mendapatkanmu. Lalu apa kamu harus menendang pintu tersebut supaya mereka tertindih dan mati? Salah banget! Sebaiknya kamu cukup dorong meja ke arah pintu, karena ini akan memberikanmu waktu lebih banyak. Kalau kamu mainkan game ini sebaiknya pikir baik-baik apa yang akan kamu lakukan!

Kapan gamenya selesai? Nggak tau, deh! Resident Evil 4 adalah game experience langka yang terus mengikatmu dan nggak akan melepas-kanmu. Berbagai item dalam mekanisme gameplay, senjata, bahkan lingkungan memberikan gamer sesuai yang mereka butuhkan. Di sini kamu nggak lagi backtrack ke area sebelumnya, dengan cuaca yang nggak pernah berubah atau mainkan level yang serupa. Pokoknya di RE 4 bener-bener tampil beda!

Kamu akan melihat kota yang bobrok, menara kastil, pabrik hancur, gudang sepi dan lain-lain. Dari satu tempat ke tempat lain, kamu harus memperjuangkan jalanmu. Dijamin nggak mau melepas kontroler walau sebentar.

Tujuanmu dalam Resident Evil 4 ini adalah untuk menyelamatkan anak Presiden, Ashley. Gameplay ini jadi agak lunak ketika kamu harus menuntunnya, kamu bisa memberikan perintah dengan menggunakan R2 di mana dia harus diam atau masuk ke dalam tong sampah untuk bersembunyi sementara kamu menghabisi musuh. Perubahan dalam game ini cukup natural dan kamu pasti bisa mengikutinya. Tentunya di poin tertentu kamu akan lebih senang kalau bisa menyingkirkan Ashley, dan nggak perlu melindunginya, tapi di sini kamu harus belajar bertanggung jawab!

Biografi of Milla Jovovich



MILLA JOVOVICH

Date of Birth
17 December 1975, Kiev, USSR (now Ukraine)

Birth Name
Milica Natasha Jovovich

Height
5' 8½" (1.74 m)

Mini Biography

Milla Jovovich is an Ukrainian-born actress, supermodel, fashion designer, singer and public figure, who was on the cover of more than a hundred magazines, and starred in such films as The Fifth Element (1997), Ultraviolet (2006), and the 'Resident Evil' franchise.

She was born Milica Natasha Jovovich on December 17, 1975, in Kiev, Ukraine, Soviet Union (now Kiev, Ukraine). Her Serbian father, Bogdan Jovovich, was a medical doctor in Kiev. There he met her mother Galina Jovovich, a Russian actress. At the age of 5, in 1981, Milla with her parents emigrated from the Soviet Union, moving first to London, UK, then to Sacramento, California, and eventually settled in Los Angeles. There her parents worked as house-cleaners for the household of director 'Brian de Palma'. Her parents separated, and eventually divorced, because her father was arrested and spent several years in prison.

Young Milla Jovovich was brought up by her single mother in Los Angeles. In addition to her native Russian, she also speaks Serbian and English. However, in spite of her cosmopolitan background, Milla was ostracized by some of her classmates, as a kid who emigrated from the Soviet Union amidst the paranoia of the Cold War. Many emotional scars had affected her behavior, but she eventually emerged as a resilient, multi-talented, albeit rebellious and risk-taking girl. She was coached by her actress mother since her childhood, first at home, then studied music, ballet, and acting in Los Angeles. In 1984 she made her first career move, appearing on the cover of 'High Times' in the UK, at the age of 9.

She shot to international fame after she was spotted by the photographer Richard Avedon at the age of 11, and was featured in Revlon's "Most Unforgettable Women in the World" advertisements, and on the cover of the Italian fashion magazine 'Lei' which was her first cover shoot. She made her first professional model contract at the age of 12, and soon made it to the cover of 'The Face', 'Vogue', 'Cosmopolitan' and many other magazines. The total number of her magazine covers worldwide was over one hundred by 2004, and keeps counting. In 2004 she made $10.4 million, becoming the highest paid supermodel in the world.

Milla Jovovich was torn between two professions, before she eventually became one of the very few supermodels who also developed a steady and serious film career. In 1988, at age 12, she made her film debut credited as Milla in a supporting role in Two Moon Junction (1988) by writer/director Zalman King. During the 1980s and early 1990s, she played several supporting roles as a teenage actress in film and on television, then starred in Return to the Blue Lagoon (1991). In 1997 she co-starred opposite Bruce Willis in the sci-fi blockbuster The Fifth Element (1997), then she starred as the title character of The Messenger: The Story of Joan of Arc (1999). In the early 2000s, Milla had a few years of uncertainty in her acting career due to uneven quality of her films, as well as some hectic events in her private life. However, she managed to overcome her personal crisis. With the leading role as Alice in Resident Evil (2002) and its two sequels, she established herself as a film star, and her success in acting career eventually matched her success as a supermodel.

Outside of her acting and modeling professions, Milla Jovovich released several critically acclaimed musical recordings, making her debut as a singer, songwriter and musician with the 1994 release of 'The Divine Comedy'. She also gave several live performances with her band Plastic Has Memory and was featured on 'Hollywood Goes Wild'. Her vocal recordings appeared on soundtracks of several films. She has been writing music and lyrics to her song-demos, playing her guitar and sampling other sounds from her computer, and allowing free download and remix of her songs from her website.

For many years Milla Jovovich has been maintaining a healthier lifestyle, practicing yoga and meditation, trying to avoid junk food, and cooking for herself. Since she was a little girl, Milla has been writing a private diary, a habit she learned from her mother. She has been keeping a record of many good and bad facts of her life, her travels, her relationships, and all important ideas and events in her career, planning eventually to publish an autobiography. After dissolution of her two previous marriages, Milla Jovovich became engaged to film director Paul W.S. Anderson; their daughter, Ever Anderson, was born on November 3, 2007.